LATAR BELAKANG | • | UU. No. 25 Tahun 2004 tentang SPPN (Ps. 2 ayat 2) Penyusunan Perencanaan Pembagunan ☞ sistematis, terarah, terpadu dan tanggap terhadap perubahan. Dengan periode waktu 20 tahun RPJP/5 Tahun/RPJM dan 1 tahun/RKPD. | | • | Selama 60 tahun bangsa Indonesia telah berhasil bangsa Indonesia telah berhasil membuktikan bahwa dirinya sanggup mempertahankan dan mengisi kemerdekaannya. | | • | Pemerintah Kota Kupang berkemauan kuat untuk mereinventing paradigma pembangunan dengan cara menyusun RPJPD Kota Kupang berdimensi waktu dua puluh tahun ke depan. | | • | Pemerintah Kota Kupang perlu mendayagunakan secara optimal semua kekuatan perubahan internal dan eksternal diwilayahnya untuk memperbesar kemampuan pemerintah mencapai tujuan pembangunan berdasarkan arah pembangunan yang ditetapkan. | | • | RPJPD, substansinya merupakan jabaran dari tujuan negara kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945; RPJP Nasional, dan RPJP Provinsi NTT, yang mencakup visi, misi dan arah pembangunan Kota Kupang untuk periode waktu 20 tahun ke depan yaitu 2007-2026. |
MAKSUD DAN TUJUAN | • | RPJPD sebagai dokumen perencanaan berentang waktu 20 thn (2007-2026) | | • | RPJPD ditetapkan utk memberi arah dan jadi acuan bagi pelaku pembangunan utk mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan nasional di daerah sesuai visi, misi dan arah pembangunan Kota Kupang |
LANDASAN | 1 | Pancasila sebagai landasan idiil dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional | | 2 | Tap MPR RI No. VII/MPR/2001 ttg Visi Indonesia Masa Depan | | 3 | UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara | | 4 | UU No. 1 Tahun 2003 Tentang Perbendaharaan Negara | | 5 | UU No. 25 Tahun 2004 Ttg. Sistem Perencanaan Pemb. Nasional. | | 6 | UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah | | 7 | UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah | | 8 | Wawasan Nusantara | | 9 | Ketahanan Nasional |
PENGERTIAN | • | RPJPD sebagai dokumen perencanaan pembangunan daerah | | • | Substansi RPJPD adalah jabaran tujuan negara dan daerah | | • | RPJPD Kota Kupang adalah jabaran RPJPN, RPJPD NTT | | • | Cakupan substansi RPJPD yaitu visi, misi dan arah pembangunan daerah. |
KONDISI SAAT INI A. SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERGAMA 1. Demografi | • | Tingkat kematian (TMR, CMR, ASMR) tinggi | | • | Mempengaruhi tkt kelahiran (TFR, CBR) tinggi melalui fungsi replacement | | • | Migrasi keluar < migrasi masuk | | • | Pertumbuhan penduduk tinggi,cenderung terus meningkat | | • | Kepadatan teknis dan agraris cenderung terus meningkat | | • | Usia harapan hidup naik (karena asumsi) | | • | Rasio seks relatif seimbang | | • | Global trend demografi dengan migrasi internasional membawa IPTEK ke ruang lokal menggeser daya saing lokal | | • | Usia kawin pertama cenderung meningkat |
Masalah Bagaimana mengendalikan faktor-faktor demografi untuk menekan laju pertumbuhan penduduk Peluang Pembangunan Aspek Demografi | | Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat | | | Peningkatan kualitas pendidikan masyarakat | | | Peningkatan kesejahteraan masyarakat | | | Peningkatan kualitas lingkungan | | | Intervensi program kependudukan KB |
Tantangan Pembangunan Aspek Demografi | | Laju pertumbuhan penduduk cenderung meningkat dan akan jadi beban pembangunan yang sangat berat 20 tahun yad. | | | Peningkatan kepadatan teknis-psikologis berakibat disparitas akses individu dan klpk masy, thdp pembangunan, kesejahteraan | | | Terjadi peningkatan pengangguran è wilayah kumuh è patologi sosial è kerawanan keamanan, dll | | | Rasio beban tanggungan besar è kesejahteraan menurun | | | Berat upaya capai net reprod. rate (NRR) sebesar 1,0 thn 2026 | | | Densitas è distribusi pddk dan pengelolaan ruang (RTRW) | | | Trend demografi global geser SDM tidak berdayasaing ke perifer persaingan di segala bidang |
2. Sumberdaya Manusia | • | Kualitas SDM rendah berdasar IPM (peringkat 53 nasional) | | • | Angka Harapan hidup ketika lahir rendah (69,8) | | • | Rerata lama sekolah pddk < 15 thn hanya 10,1 tahun | | • | Penduduk buta huruf 2,5% | | • | Pengeluaran riil per kapita hanya R578.800,- |
Peluang PSDM | • | Life long human development | | • | Life long education | | • | Pembangunan pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan | | • | Transformasi fungsional, sosial budaya dan structural |
Tantangan PSDM | • | Peningkatan Angka Partisipasi murni pendidikan dasar | | • | Peningkatan sediaan dan kualitas sarana dan perasarana pendidikan, kesehatan, teknologi, lingkungan dll | | • | Peningkatan keefektifan penyelenggaraan pendidikan dalam arti seluas-luasnya dan mutu lulusan khususnya | | • | Pemanfaatan teknologi kibernetik dan cyberspace untuk belajar dan berproduksi | | • | Peningkatan kemampuan ekonomi rumahtangga untuk belanja determinan-determinan perubahan dan kesejahteraan | | • | Human resources development road map design | | • | Peningkatan ketertiban dan keamanan wilayah |
Masalah SDM Bagaimana meningkatkan kualitas dan dayasaing sumberdaya manusia sebagai human capital dalam pembangunan kota 3. Pendidikan | • | Rendah tingkat partisipasi murni pendidikan dasar | | • | Penurunan jumlah pdduk buta aksara sewindu terakhir | | • | Rasio sekolah-guru; guru-murid; sekolah-murid belum baik | | • | Angka putus sekolah menurut jenis dan jenjang pendidikan dan kelompok usia warga belajar masih tinggi | | • | Mutu lulusan SMU/K berdaya saing rendah secara nasional | | • | Paten IPTEK hasil R&D tdk ada; eksport teknologi manufaktur /maju tdk ada; è tkt daya saing masyarat kota rendah |
Masalah Pendidikan Bagaimana meningkatkan dinamika dan kualitas sistem (masukan, proses dan keluaran) pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan untuk memperoleh keluaran yang berdaya saing Peluang | • | Program pembangunan aspek sumberdaya manusia | | • | Program pembangunan aspek kesehatan | | • | Program pembangunan aspek pendidikan | | • | Program pembangunan aspek kependudukan KB | | • | Program pemberdayagunaan ekonomi rumahtangga | | • | dll |
Tantangan Aspek Pendidikan | • | Kualitas sumberdaya pendidikan | | • | Sediaan dan mutu sarana dan prasarana pendidikan | | • | Perbaikan rasio sarana dan prasarana pendidikan-populasi belajar | | • | Peningkatan mutu manajemen pendidikan | | • | Peningkatan mutu proses pembelajaran | | • | Penegakan pelaksanaan peraturan perundangan bid. pddkn | | • | Peningkatan keefektifan monitoring dan evaluasi pendidikan | | • | Peningkatan dan pemerataan kesempatan belajar klpk margin | | • | Peningkatan mutu lulusan pada semua jenis dan jenjang pddkn | | • | Penciptaan keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar | | • | Pemberantasan penjualan gelar akademis dan pendidikan illegal | | • | Tkt morbiditas pddk laki-laki dan perempuan masih tinggi | | • | Besaran relatif anak berstatus gizi setinggi lebih rendah gizi cukup 45% (n=934) | | • | Jlh rumahsakit belum bertambah meningkat signifikan dalam sedasawarsa terakhir | | • | Pertambahan tenaga dokter meningkat signifikan kecuali jlh bidan paktek menurun sejak thn 2000 | | • | Rasio sarana dan prasarana kesehatan : jlh penduduk belum baik | | • | Jlh perempuan yang tidak pernah jadi akseptor 48,98% | | • | Lima tahun terakhir terjadi peningkatan akseptor 1,96%/thn | | • | Prevalensi akseptor PUS tinggi dan fluktuatif 5 thn terakhir | | • | Dlm 5 tahun terakhir terjadi perubahan meningkat status keluarga berindikan kesejahteraan versi |
BKKBN | • | Ibu hamil kekurangan energi kronis cukup rendah, ber Hb 11 gr % juga rendah; ibu hamil resiko tinggi hanya 6,44% | | • | Jumlah kematian ibu per 100 000 KH tinggi 16,17% tetapi menurun menjadi 0,16% (2005) | | • | umlah bayi lahir mati 0,65% (2005) |
Peluang | • | Peningkatan kualitas pendidikan dan kessdaran masy. | | • | Program peningkatan sarana dan prasarana kesehatan | | • | Mendekatkan layanan kepada pasien secara lokal | | • | Perdayagunaan laki-laki sebagai potensi akseptor | | • | Peningkatan kualitas kesejahteraan keluarga dan masy. | | • | dll |
Tantangan | • | Peningkatan kualitas sumberdaya kesehatan | | • | Peningkatan dana program pembangunan kesehatan | | • | Peningkatan efisiensi dan transparansi manajemen kesehatan | | • | Peningkatan sediaan dan kualitas sarana dan prasarana kesehatan | | • | Percepatan penurunan angka kesakitan, kematian, dsb | | • | Percepatan peningkatan besaran prevalensi akseptor ; PUS | | • | Percepatan penurunan tkt drop out akseptor | | • | Peningkatan keefektifan dan efisiensi pelaksanaan tugas fungsional kesehatan dan KB | | • | Penyusunan data dasar kesehatan dan KB |
Masalah - Bagaimana strategi percepatan pencapaian dan peningkatan Kualitas kesehatan masyarakat kota - Bagaimana mempercepat penurunan tingkat kelahiran Untuk mencapai NRR 1 di akhir PJP 4. Sumberdaya Perempuan | • | Sub populasi perempuan > laki-laki | | • | Internalisasi dan institusionalisasi ideologi gender masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan masyarakat | | • | Status subordinasi perempuan karena peran laki-laki dan super ordinasi laki-laki mendeterminasi semua dimensi hidup perempuan | | • | Superioritas laki-laki bahkan mendominasi domain perempuan | | • | Belum tercapai alokasi sumberdaya perempuan di bidang eksekutif, legislatif, yudikatif | | • | Penggunaan terminologi laki-laki yang terlalu mendiskreditkan perempuan, dll |
Masalah Bagaimana memperdayagunakan secara efektif potensi sumberdaya perempuan sebagai kapital untuk meningkatkan keberhasilan pembangunan Tantangan | • | Status marginal wanita dalam pengambilan keputusan di sektor reproduksi, kerumahtanggaan dan ekonomi produktif | | • | Karakterisasi dan pelembagaan ideologi gender belum efektif | | • | Pencapaian target alokasi sumberdaya perempuan 30% dalam bidang eksekutif, legislatif, yudikatif |
Peluang | • | Potensi populasi perempuan | | • | Peningkatan kualitas pendidikan populasi perempuan | | • | Rekayasa proses sosial | | • | Dukungan politik peningkatan peran perempuan |
5. Agama dan kepercayaan | • | Kemajemukan masyarakat secara etnis, kultur dan agama dan kepercayaan merupakan berkat dan pemersatu | | • | Kehidupan antar umat beragama cukup harmonis | | • | Tiada benturan dan friksi antar kelompok masy. bermotif perbedaan agama dan kepercayaan | | • | Sarana dan prasarana tempat peribadatan cukup tersedia |
Masalah Bgmn meningkatkan kualitas kerukunan antar umat beragama Dan keragaman agama dan kepercayaan sebagai pemersatu Peluang | • | Kekuatan azas genealogis dalam keluarga anggota beda gama | | • | Persepsi keragaman agama dan kepercayaan adalah kekuatan | | • | Kesadaran bertoleransi antar umat beragama | | • | Kegiatan bersama umat beragama dalam berbagai bidang | | • | Peningkatan kualitas unsur perilaku sumberdaya manusia |
6. Pembangunan Budaya | • | Keragaman unsur budaya pengaya interaksi pelaku budaya | | • | Keragaman unsur budaya berpotensi benturan | | • | Frekuensi benturan antar etnis rendah | | • | Ada upaya promosi dan sosialisasi nilai budaya lokal |
Masalah Peningkatan peran unsur budaya memperkuat jatidiri bangsa dan ketahanan nasional Tantangan | • | Pengaruh trend global telekomunikasi dan informasi | | • | Dampak pembentukan budaya dan komunitas global | | • | Krisis jatidiri bangsa dan kerapuhan ketahanan nasional | | • | Reduksi peranserta anggota masy. global dlm. pembangunan |
Peluang | • | Landasan idiil dan kontitusional yg akomodatif | | • | Interaksi pelaku budaya dlm atmosfer yang kondusif | | • | Promosi dan pelestarian nilai budaya | | • | Keterbukaan proses budaya melalui akulturasi untuk menerima unsur kreasi budaya baru, termasuk kepercayaan |
B. EKONOMI | • | Batas garis kemiskinan tergolong tertinggi se kab/kota NTT | | • | Jumlah penduduk miskin masih besar | | • | Indeks kedalam kemiskinan 1,42. Trend indeks menurun | | • | Indeks keparahan kemiskinan 0,30. Trend indeks menurun | | • | Struktur ekonomi didominasi sektor pengkontribusi utama yi Jasa-jasa, perdagangan, restoran dan hotel dan sektor pengangkutan dan komunikasi | | • | Hanya sektor jasa yang mengalami kontribusi meningkat PDRB | | • | Pertumbuhan ekonomi masih di bawah laju inflasi sejak 1998 dan belum pulih sehingga daya beli masy. melemah | | • | PDRB per kapita terus meningkat dlm 5 tahun terakhir dan efeknya terhadap kenaikan pendapatan per kapita | | • | Struktur APBK didominasi oleh unsur pemberian pemerintah /instansi atas; PAD sangat rendah | | • | Struktur belanja APBK didominasi belanja pegawai. Belanja pembangunan beralokasi rendah. Belanja IPTEK tdk ada | | • | Tkt partisipasi angkatan kerja sebesar 55,6, pengangguran ter- buka 4,7% | | • | Tenaga kerja yg bekerja < 14/minggu 10,3%; <13 jam/minggu 27,1%, kumulatif 37,4% | | • | Pertumbuhan industri kecil sangat signifikan, industri besar tetap | | • | Inflasi 15,16% (2005) |
Masalah Bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah Dan meningkatkan ketahanan ekonomi masy. Miskin Peluang | • | Komitmen politik pemberdayagunaan ekonomi rakyat | | • | Keberlanjutan program pemberidandayagunaan ekonomi rakyat | | • | Regulasi untuk peningkatan PAD | | • | Pengembangan sektor lainnya prospektif, selain jasa dan konstruksi | | • | Kesempatan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita |
Tantangan | • | Ketimpangan pertumbuhan ekonomi dgn inflasi dapat menurun garis batas kemiskinan, meningkatkan indeks kdalam dana keparahan kemiskinan | | • | Peningkatan kesempatan kerja untuk menekan tkt pengangguran | | • | Peningkatan produktivitas kerja melalui distribusi tenaga dan jam kerja yang lebih besar (etos kerja) | | • | Keberpihakan APBK kepada pembangunan melalui peningkatan alokasi dana belanja pembangunan | | • | Alokasi belanja PSDM melalui IPTEK | | • | Regulasi diversifikasi sumber-sumber PAD | | • | Menekan kebocoran dana pembangunan |
C. SARANA DAN PRASARANA | • | Sarana dan prasarana transportasi darat tersedia dalam jumlah dan mutu yang memadai, kecuali terminal anggkutan kota | | • | Pertambahan jumlah kendaraan bermotor beroda 2 sangattinggi dalam 3 tahun terakhir | | • | Tkt kecelakaan lalu lintas sangat tinggi | | • | Frekuensi pelayaran samudera menyinggahi pelabuhan laut bersifat stagnan, pelayaran nusantara, khusus dan perintis menurun frekensinya | | • | Sejak 2003 jlh penumpang naik-turun menurun | | • | Sejak 2002 vol bongkar barang dan ternak menurun | | • | Pelabuhan udara hanya 1 bandara | | • | Jumlah pesawat terbang, jumlah penumpang naik-turun dan vol bongkar-muat barang meningkat sewindu terakhir |
Air bersih dan sanitasi | • | Karena kondisi iklim dan geologi, sediaan air aliranpermukaan sangat sedikit terutama di musim kemarau | | • | Tkt kelembaban permukaan tanah sangat rendah di musim kemarau | | • | Akses masyarakat terhadap air bersih sangat terbatas | | • | Hanya 60,63% rumah tangga terlayani air PDAM | | • | Hanya 78,69% rumah tangga memiliki tpt buang air besar sendiri | | • | Sanitasi lingkungan kali Kaca dan pesisir pantai sangat buruk akibat pembuangan sampah, tinja dll |
Kelistrikan | • | Terdapat 94,76% rumahtangga konsumsi listrik PT PLN | | • | Kelangkaan BM bahan pembangkit tenaga listrik | | • | Peningkatan kualitas jaringan, diversifikasi jenis energi listrik non konvensional | | • | Kebocoran aliran listrik karena pencurian |
Pemukiman | • | RUTRK telah ditetapkan tetapi belum ditaati secara baik | | • | Status kepemilihan lahan masih menjadi sumber benturan | | • | Sebagian besar rumah beratap seng, berlantai terluas bukan tanah; berluasan lantai terluas 20-49 m3 |
Telekomunikasi | • | Terjadi peningkatan sediaan sarana dan prasarana telekomunikasi. | | • | Penggunaan telepon seluler berkembang pesat | | • | Akses televisi, internet cukup besar dan menjadi aset pribadi | | • | Jumlah kantor pos tidak bertambah |
Sarana Kesehatan dan Pendidikan | • | Sediaan dan mutu sarana dan prasarana kesehatan belum memadai | | • | Sediaan sarana dan prasarana pendidikan belum memadai | | • | Distribusi kedua jenis sarana dan prasrana tsb belum baik |
Masalah Bagaaimana meningkatkan sediaan dan mutu sarana Dan prasarana dengan pengelolaan yang efisien di Semua bidang dan aspek pembangunan Tantangan | • | Sediaan dana pengadaan sarana dan prasarana sangat terbatas | | • | Pengelolaan sarana prasarana belum efektif | | • | Peningkatan kualitas pemeliharaan sarana prasarana | | • | Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana dll |
D. POLITIK DAN PEMERINTAHAN | • | Kualitas partisipasi politik masyarakat dlm pemilu baik. | | • | Disefektivitas pendidikan politik partai politik | | • | Krisis kualitas sumber daya manusia partai | | • | Belum tercapai alokasi perempuan sebagai anggota partai politik | | • | Peningkatan dinamika dan keefektivan peran lembaga suprastruktur, infrastruktur politik dan lembaga penghubung | | • | Good and clean governance belum tercapai | | • | Iklim/atmosfer kerja pemerintah masih dicoraki benturan klik | | • | Sistem KKN masih menciri dalam PSDM | | • | Penegakan kode etik profesi jadi pekerjaan rumah | | • | Masih diperlukan program capacity building dan standar kompetensi pejabat | | • | Peningkatan disiplin dan produktivitas kerja | | • | Penyusunan data dasar lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif. |
Masalah - Bgmn meningkatkan kualitas, kapasitas dan profesionalisme politik anggota dan partai politik - Bgmn meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur untuk mencapai good and clean governance Tantangan | • | Keefektifan pelaksanaan program pengkaderan dan pendidikan politik | | • | Institusionalisasi visi dan misi partai politik di kalangan partai | | • | Pelaksanaan partisipasi politik anggota masyarakat yang bermutu | | • | Peningkatan profesionalisme dan kualitas kinerja anggota partai dalam kapasitas sebagai anggota legislatif | | • | Mencapai good and clean governance | | • | Pengembangan kualitas sumberdaya aparatur | | • | Menghapus KKN dan meningkatkan kualitas kinerja | | • | Penegakan code of conduct profes dsb |
Peluang | • | Dukungan peraturan perundangan | | • | Dukungan program-program perdayagunaan | | • | Naluri dasar manusia selalu ingin lebih baik dan maju | | • | Kepemimpinan dan pemerintah yang bersih dan berwibawa | | • | Kesadaran politik masyarakat, dll. |
E. HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA | • | Masih ada dampak sisa kebenaran dan keadilan berazas kekuasaan | | • | Reformasi bidang hukum dan lainnya belum mencapai tujuan | | • | Belum terjadi perubahan fungsi hukum berdaya atur menjadi hukum berazas dukungan sosial | | • | Belum efektif proses perubahan hukum artikulasi persepsi kekuasaan ke artikulasi demokrasi hukum | | • | Pelanggaran hukum cukup tinggi | | • | Rasa keadilan pencari keadilan belum terjamin oleh keputusan hukum | | • | Krisis keercayaan terhadap pelaksanaan hukum positif | | • | Sering terjadi pelanggaran HAM | | • | Belum direartikulasi pelanggaran HAM internasional berdasar konteks kriteria lokal | | • | Kasus KDRT dan kekerasan seksual mengalami eskalasi, dll |
Masalah Bagaimana strategi penegakaan keadilan dan Hak Azasi Manusia Tantangan | • | Hukum berazas kekuasaan belum tuntas direformasi | | • | Penegakan kode etik profesi fungsionaris hukum | | • | Peningkatan efisiensi pengelolaan tindakan pelanggaran hukum | | • | Kepastian hukum bagi pencari keadilan | | • | Penurunan kasus KDRT | | • | Penurunan kasus kekerasan seksual, penelantaran anak dan orangtua | | • | Pelaksanaan Hak azasi Manusia | | • | Pengurangan besaran luncuran perkara tunda ke tahun depan dll |
Peluang | • | Reformasi berkelanjutan di bidang hukum | | • | Pemberantasan KKN | | • | Reformasi substansi hukum yang mengatur menjadi hukum yang responsif dll |
F. SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN 1. Lingkungan Hidup dan Hutan | • | Kerusakan lingkungan hidup secara artifisial terus berlangsung | | • | Belum terjadi perluasan taman kota sebagai paru-paru kota | | • | Pengembangan wilayah pusat kota berfailitas gelanggang remaja, gedung kesenian, dll belum ada sesuai RUTRK | | • | Kerusakan hutan mangrove dan lingkungan pesisir serta lingkungan kali Kaca dan Liliba |
Masalah Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang seimbang untuk pelestarian Peluang | • | Sosialisasi fungsi sumberdaya alam dan lingkungan melalui pendidikan lingkungan dan kurikulum | | • | Diseminasi peraturan perundangan lingkungan hidup | | • | Pemberian sanksi tegas terhadap pelanggaran lingkungan hidup | | • | Penyusunan neraca lingkungan ,naraca air dll | | • | Penggunaan teknologi ramah lingkungan | | • | Pemnatauan kualitas udara dan air | | • | Penyusunan neraca sumberdaya alam | | • | Penyusunan data dasar sumberdaya alam dan lingkungan | | • | Penyusunan indikator keberhasilan pengelolaan SDA dan lingkungan hidup dll. | | • | Kerusakan prasarana kota terpadu | | • | Penyusutan wilayah hutan lindung dan hutan sebagai zona penyangga dan tangkapan air | | • | Koversi peruntukan ruang menyimpang dari RBWK | | • | Pencemaran wilayah pantai, sungai, udara, dl | | • | Isu global lingkungan hidup belum menciri dalam karakter sosial | | • | Pertumbuhan penduduk tinggi perbesar tekanan terhdp SDA |
2. Lahan Kritis | • | Belum terpetakan lahan kritis sampai informasi detil | | • | Percepatan lahan kritis oleh dampak teknologi tebas bakar | | • | Upaya penghijauan dan penghutanan kembali terkendala pembakaran di musim kemarau |
3.Sumberdaya air dan DAS | • | Sumberdaya air bawah permukaan tersedia terkendala teknologi eksploitasi | | • | Disefektifitas manajemen perawatan sumber air permukaan | | • | Terjadi perluasan jaringan, tetapi juga peningkatan kerusakan jaringan distribusi | | • | Penyusutan hutan sebagai zona tangkapan air | | • | Penyusutan hutan sebagai zona penyangga sistem hidrologi DAS | | • | Kerusakan DAS menyebabkan debit air menurun dll |
4. Kawasan Pesisir dan laut | • | Totem mentabukan masyarakat etnis Meto pesisir memperdaya gunakan dan mengakses sumberdaya pesisir dan laut | | • | Komunitas petani nelayan pesisir mengelola sumberdaya laut dan pesisir dgn teknologi tradisional | | • | Pengelolaan sumberdaya laut menggunakan bahan berbahaya | | • | Kerusakan fungsi hutan mangrove sebagai habitat budidaya biologi laut dan pesisir | | • | Eksploitasi sumberdaya laut dan pesisir merusak keseimbanagan lingkungan. |
|